Kamis, 02 November 2017

Sudahkah Kita Mencintai Allah dan Rasul-Nya Melebihi Segalanya ? Ukur Dengan Ini

Bismillah

Sudahkah Kita Mencintai Allah dan Rasul-Nya Melebihi Segalanya ? Ukur Dengan Ini

Salah satu sifat atau kecenderungan manusia adalah adanya rasa cinta kepada kesenangn hidup di dunia, sebagaimana difirmankan-Nya dalam QS. Ali Imraan 14 “Dijadikan indah dalam pandangan (manusia) kecintaan kepada apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”.
Bentuk cinta ini disebut hubbusy syahwat. Allah Swt tidak melarang manusia untuk mencintai pasangan dan anak-anak, karena anak dan pasangan hidup, suami atau istri, bisa jadi ladang ibadah, juga tidak melarang untuk mencari kesenangan dunia dalam bentuk harta kekayaan, bahkan Allah Swt memerintahkan manusia untuk bertebaran di muka bumi dalam mencarinya, karena harta dapat dijadikan bekal untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya.
Dalam salah satu hadits, Rasul Saw pernah bertanya kepada para sahabatnya, siapa yang lebih mencintai dirinya dari pada yang lainnya, seorang sahabat menjawab dia adalah yang sangat mencintai dirinya, namun kemudian Rasul Saw menyampaikan bahwa kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya harus melebihi kecintaan kepada diri massing-masing, selanjutnya sahabat tersebut menyampaikan bahwa dia mencintai Alloh dan Rasul-Nya melebihi kecintaan kepada dirinya.
Timbul suatu pertanyaan bagaimana bentuk dan praktek keseharian dari mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi kecintaan kepada dirinya dan kesenangan hidup dunia.
Pertanyaan ini muncul karena kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dimensinya bebeda dengan kecintaan terhadap kesenangan dunia, sebagaimana juga berbedanya rasa cinta terhadap istri atau suami dengan rasa cinta kepada anak-anak.
Cinta terhadap istri atau suami pasti ada unsur syahwat atau birahi, sedangkan cinta kepada anak pasti tidak ada unsur birahi. Cinta kepada harta kekayaan dimensinya berbeda dengan cinta terhadap anak atau pasangan hidup.
Rasa cinta kepada Alloh dan Rasul-Nya diekspresikan dalam bentuk melaksanakan semua perintah dan larangan-Nya serta sunnah Rasul-Nya, dan dalam cinta ini tidak mengandung unsur syahwat.
Bentuk atau gambaran apakah seseorang menjatuhkan pilihan mana yang lebih dicintai, akan terjadi ketika dihadapkan pada kondisi dimana dia harus memilih antara lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya atau lebih mencintai kesenangan hidup dunia. Kondisi ini dapat digambarkan dalam beberapa contoh sederhana sbb :
1.Seorang Muslim rela melaksanakan shalat, walau dalam kondisi lelah, rela bangun malam untuk shalat malam, rela menangguhkan aktivitas saat waktu shalat tiba, rela melaksanakan shaum wajib walau bertentangan dengan nafsu memenuhi kebutuhan fisik di siang hari, dan kerelaan lain untuk melaksanakan kewajiban dan tidak melanggar perintah-Nya. Semua kerelaan tsb karena lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya dibandingkan dengan nafsu mencintai diri sendiri.
2.Ketika pasangan hidup atau anak melakukan perbuatan yang terlarang atau meninggalkan yang wajib, dan setelah diberikan pengertian tetap tidak berubah perbuatannya, maka disinilah pilihan harus ditentukan, apakah lebih mencintai pasangan hidup atau anak dengan membiarkan perbuatan mereka yang dilarang Allah Swt, atau lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan menegakkan hukum-Nya.
3.Jika memiliki harta yang telah memenuhi nisab untuk dizakati, maka pemilik harta tersebut dihadapkan kepada pilihan mana yang lebih dicintainya, jika dia memilih tidak berzakat maka dia jadi manusia yang lebih mencintai hartanya dari pada mencintai Allah dan Rasul-Nya.
4.Manusia diberikan kenikmatan yang tinggi dalam bentuk otak/pemikiran, namun janganlah mempergunakan pemikiran untuk mengotak-ngatik hukum Allah dan Rasul-Nya dengan menafsirkannya yang dilandasi oleh pengagungan atas pemikiran tersebut. Manakala ada suatu pemikiran yang menyimpang dari hukum Allah, sebagai bentuk kecintaan kepada Allah maka hukum Allah yang dijadikan dasar acuan.
Disamping cinta kepada kesenangan dunia, Allah Swt juga memberikan karunia cinta yang bersifat ukhrawi yaitu cinta kepada keimanan (hubbul iman).
Jika jenis cinta ini tumbuh subur dalam diri seseorang, maka itulah sebuah keunggulan sekaligus kenikmatan tiada tara sebagaimana telah difirmankan-Nya dalam QS Al Hujurat 7-8 “…Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana”.
donasi perpustakaan masjid
Seyogyanya umat Islam harus lebih mengutamakan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, karena jika lebih mencintai yang lain, manusia disuruh menunggu keputusan-Nya, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (QS At Taubah ayat 24). Dan jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu keputusan, maka tidak pantas bagi yang beriman untuk mengambil pilihan yang lain yang berbeda bagi mereka untuk urusan mereka (QS Al Ahzab 36).
Yang paling utama harus diperhatikan dalam upaya lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah dengan melaksanakan segala perintah dan tidak melanggar larangan-Nya serta mengikuti sunnah Rasul-Nya.
Seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya tidak merasa cukup hanya melaksanakan kewajiban, tapi juga ditambah dengan ibadah-ibadah yang disunnahkan, baik dalam shalat, shaum, infaq, bahkan kewajiban ibadah haji, dia jangankan melanggar larangan-Nya, mendekatipun tidak, bahkan yang makruhpun ditinggalkan. Allah Swt pasti akan mencintai umat yang mencintai-Nya dan yang terus berupaya untuk mendapatkan ridha-Nya.
Jika kita mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka dalam cara beribadah harus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah Saw sebagai penerima wahyu dan pembawa risalah, janganlah melaksanakan ibadah-ibadah yang tidak dicontohkan, karena Allah Swt Maha Tahu apa yang terbaik untuk manusia dan Allah Maha Pembuat Hukum.Wallahu’alam.

0 komentar:

Posting Komentar